Bismillahirrohmanirrohim

Urgensi Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Guna Revitalisasi Karakter, Akhlak,  Dan Moral Generasi Penerus Bangsa
Sukma Putri Anna
(2021116015)
IAIN Pekalongan

Abstrak
Kemajuan suatu bangsa dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Penataan pendidikan itu diupayakan mampu menjadikan rakyat Indonesia yang berkarakter dan bermoral, sehingga dapat meninggikan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Penataan pendidikan yang terpenting disini ialah  dalam penataan pendidikan agama Islam. Proses peningkatan pendidikan agama Islam, dapat menaikan kualitas moral anak bangsa. Disamping adanya penanaman nilai-nilai Islam dan kepatuhan setiap individu dalam menjalankan syari’at Islam, bangsa ini juga harus bisa menjadi bangsa yang berilmu pengetahuan luas. Pendidikan di Indonesia hendaknya mampu menyeimbangkan antara ilmu-ilmu dunia dengan ilmu-ilmu akhirat, guna tercapainya kualitas bangsa yang ideal. Tidak hanya pandai berkata-kata, melainkan juga pandai mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.  Dengan cara membina keselarasan akidah, ibadah, dan akhlak.

Kata kunci: Pendidikan agama Islam, kedudukan, sistem, akidah, akhlak, iman, bangsa, Indonesia

Pendahuluan
Sejalan dengan problematika umat kontemporer di Indonesia, sebagai dampak dari meningkatnya arus globalisasi diberbagai dimensi kehidupan. Selain itu juga karena kurangnya pendidikan agama yang ditanamakan dalam diri seorang anak sejak dini. Adanya fenomena semacam ini, sangat memerlukan pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam. Kehadiran pendidikan agama Islam diharapkan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan-persoalan kehidupan.
Agama sangatlah penting dalam kaitannya dengan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Karena tanpa adanya agama manusia akan hidup terombang ambing tanpa tujuan. Dengan berpedoman pada agama yang di anutnya, diharapakan manuisa dapat mengerti dan memahami konsep diri dalam mengarungi kehidupan. Agama sangat berguna untuk menopang diri, karena dengan agama manusia dapat memeperoleh arti dalam menjalani hidup sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhannya.
Pada dasarnya pendidikan mempunyai peran yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Sebab, pendidikanlah yang akan mencetak sumber daya manusia. Terutama pendidikan agama Islam, salah satu peran agama Islam sendiri ialah untuk memebentuk akhlak dan budi pekerti mulia.
Pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di Indonesia. Kedudukan pendidikan agama Islam sangat mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki dasar yang cukup kuat. Hal ini secara pintas dapat dilihat dalam tujuan pendidikan yang diterapkan di Indonesia yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ini juga dilakukan dalam pendidikan Islam.  Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertkwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah banyak menemukan bukti nyata dari rendahnya akhlak generasi penerus bangsa. Perilaku negatif yang mudah kita jumpai diantaranya: hamil diluar nikah, pembunuhan, narkoba, pemerkosaan, tawuran, dan masih banyak lagi ulah dari kalangan remeja di zaman sekarang. Adanya perilaku negatif tersebut menunjukkan belum optimalnya pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah. Ada 3 alasan penting perlunya mengoptimalkan pendidikan agama Islam. Pertama, banyaknya jumlah generasi muda Islam yang ada di sekolah umum, dibandingkan dengan generasi muda Islam yang ada di Madrasah atau pesantren.
Kedua, mata pelajaran PAI yang dilaksanakan di sekolah umum sangat terbatas. Dengan keterbatasan tersebut tidak mungkin dapat menyelesaikan materi pembelajaran pendidikan agama Islam secara utuh dan menyeluruh. Mata pelajaran pendidikan agama Islam yang disampaikan lebih menekankan materi yang bersifat dogmatis. Bahkan tidak jarang guru-guru PAI yang lebih menekankan materi dalam ranah kognitif. Penanaman nilai-nilai Islam akan sulit disampaikan oleh guru-guru PAI dengan keterbatasan waktu yang disediakan.
Ketiga, jika pendidikan agama Islam kurang ditekankan di sekolah-sekolah, maka dikhawatirkan terjadi dikotomi antara ilmu dan agama. Kedepannya mereka akan lebih pandai dan menguasai bidang ilmu-ilmu umum seperti sains, tanpa dilandasi dengan keimanan yang kuat. Kaya pengetahuan namun miskin keimanan akan lebih banyak mengakibatkan kemudhorotan daripada kemaslahatan. Dan untuk menyelesaikan masalah-masalah diatas, perlu adanya optimalisasi pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah. Setidaknya, agar pendidikan di sekolah mampu menyeimbangkan antara ilmu-ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Pembahasan
Urgensi Pendidikan Islam
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutuslah seorang Rosul Allah. Tujuan utamanya untuk memperbaiki manusia kembali kepada Allah swt. Oleh karena itu, selama kurang lebih 23 tahun Rosulullah saw membina dan mempernbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketakwaan kepada Allah swt.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah dimuka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman, akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan isinya (Zainal dan Bahar, 2015:66-67)
Kedudukan Pendidikan dalam Islam
Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala potensi yang dimilikinya, ia berusaha maju dan berkembang untuk mencapai kesempurnaannya. Baik secara jasmani maupun rohani. Setiap saat manusia selalu membutuhkan belajar dari lingkungan. Untuk membuat manusia paham akan sesuatu tentunya membutuhkan peran pendidikan. Menurut Hanun Asrohah (1999:2) Pendidikan adalah suatu yang esensial bagi manusia. Melalui pendidikan, manusia bisa belajar menghadapi alam semeseta demi mempertahankan hidupnya. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam.
Sistem Pendidikan Islam
Sistem pendidikan Islam berorientais pada persoalan dunia dan ukhrawi sekaligus. Meski dalam praktiknya cukup banyak lembaga-lembaga pendidikan Islam yang cenderung mementingkan dimensi keakhiratan semata daripada keduniawian. Ini terjadi karena kehidupan ukhrawi dipandang sebagai kehidupan yang sesungguhnya dan terakhir. Sedangkan kehidupan dunia bersifat sementara, bukan kehidupan terakhir (Mastuhu, 1999:24-25). Prinsip universal dalam pendidikan Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dnegan masalah akidah, ibadah, maupun akhlak. Diantaranya meliputi: masalah ketuhanan, sosial mayarakat, kesadaran, dan lingkungan (Herman, 2014:102-103)
Kiat sistem pendidikan Islam dalam memperlakukan anak didik dapat ditempuh dengan tiga tahap. Pertama, anak didik diperlakukan sebagai anak,  orangtua sepenuhnya bertanggung jawab untuk meletakkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan yang kokoh sampai anak mencapai baligh. Kedua, anak didik diperlakukan sebagai teman, masing-masing orang memandang anak didik memiliki hak privasinya untuk menentukan gaya kepribadian sendiri. Disini anak didik tidak 100 % bergantung kepada orangtua. Ketiga, anak didik dipandang sebagai pengganti orang tua/generasi tua. Pada titik ini, anak 100% tergantung kepada dirinya sendiri dan telah mampu bekerja sama dengan orang lain dalm sistem kehidupan bersama (Mastuhu, 1999:28)
Pendidikan Karakter dalam Islam
Dapat kita ketahui bahwa tujuan utama Rosulullah menyampaikan risalah ialah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana menurut Ramayulis (1994:4) dalam bukunya, mengutip pendapat M. Athiyah Al-Abrasyi dan Ahmad D. Marimba mengemukakan pengertian pendidikan Islam, adalah “suatu proses edukatif yang mengarah kepada pembentukkan akhlak atau kepribadian”. Dari pendapat yang dikemukakannya tersebut, telah jelas bahwa pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek pembentukkan akhlak atau kepribadian sesuai pendidikan Islam.
Menurut Ahmad Tafsir (1994:32) mengatakan bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal mungkin. Dari definisi tersebut nampak ditekankan kepada usaha bimbingan bagi perkembangan menjadi muslim yang maksimal. Dari pengertian ini juga mengandung makna adanya bimbingan dari seseorang (pendidik), kepada seseorang (peserta didik), agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam (sebagai tujuan dan dasar pendidikannya).
Dari uraian diatas fokus penekanannya terdapat pada akhlak (kepribadian), disamping itu juga dalam rangka mengembangkan fitrah dan potensi manusia agar bisa berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam yang didalamnya mengandung nilai-nilai Islam. Sehingga diharapkan peserta didik mampu menjadi masyarakat muslim yang baik, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
Moral dan nilai-nilai keagamaan memiliki peran penting dalam rangka membangun kesejahteraan dalam kehidupan sosial manapun. Didalamnya mengandung sesuatu yang bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing setiap individu agar berlaku sesuai dengan yang diperintahkan oleh sang pencipta. Tanpa keduanya, maka elemen vital yang mengikat kehidupan masyarakat dapat dipastikan tidak berjalan dengan baik, bahkan bisa hilang.
Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Pentingnya penggabungan antara akal dan wahyu dalam menentukan nilai-nilai moral, terbuka untuk diperdebatkan. Bagi kebanyakan muslim segala sesuatu yang dianggap halal dan haram dalam Islam, dipahami sebagai keputusan Allah tentang benar dan baik. Tidak bisa diubah, dengan jalan menghalalkan yang haram, ataupun mengharamkan yang halal.
Dalam Islam terdapat tiga nilai utama, yakni akhlak, adab, dan keteladanan. Akhlak merujuk kepada tugas dan tanggungjawab selain syari’at dan ajaran Islam secara umum. Sedangkan term adab merujuk kepada sikap yang dihubungkan dengan tingkah laku yang baik. Dan keteladanan merujuk kepada kualitas karakter yang ditampilkan oleh seorang muslim yang baik yang mengikuti keteladanan Nabi Muhammad saw. Ketiga nilai inilah yang menjadi pilar pendidikan karakter dalam Islam (Majid dan Andayani, 2013:58).
Akhlak dan karakter sangatlah penting karena akhlak adalah kepribadian yang mempunyai tiga komponen, yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa seseorang layak atau tidak layak disebut sebagai manusia. Karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar pada diri seseorang. Hal-hal yang sangat abstrak dalam diri seseorang sering orang menyebutnya dengan tabiat atau perangai.
Pandangan Islam tentang pendidikan karakter, bahwa pendidikan Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di Barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan, dan hukum yang dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan tentang otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral. Sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya surat Al-Baqarah, yang artinya: “jika kamu lahirkan suatu kebaikan dan menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah maha pemaaf lagi maha kuasa”. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak dalam Islam itu sangat mulia dan agung bagi orang-orang yang mampu melakukannya (Sahlan:145).
Membina Keselarasan Akidah, Ibadah, dan Akhlak
Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa kunci pendidikan terletak pada pendidikan agama. Kunci pendidikan agama adalah mendidik anak, mematuhi Allah, menghormati orang tua dan guru. Menurut Ahmad Tafsir (1994:189) kegagalan pendidikan bisa disebabkan karena kurangnya rasa hormat anak kepada pendidik, baik orang tua maupun pendidik lain. Bisa jadi karena kurang berwibawanya guru. Kurang berwibawanya guru dapat disebabkan berbagai hal, dan yang paling utamanya ialah kepribadian guru. Kepribadian yang kuat ialah keimanan. Jadi, kunci dari semua itu adalah iman.
Selain itu, bisa juga karena kurangnya perhatian guru dalam menanamkan nilai-nilai agama pada diri peserta didik. Guru hanya mentransfer ilmu-ilmu pengetahuan yang sifatnya kognitif saja. Dan alokasi waktu yang diberikan dalam pembelajaran pun sangat minim. Sedangkan untuk kehidupan sosial dan masyarakat, peserta didik sangat membutuhkan ajaran yang bermuat moral-moral sebagai ajang untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan perintah Tuhan.
Menurut Zakiyah Darajat (1994:8), keimanan yang diajarkan oleh orang tua kepada anak itu sangat penting. Hal ini karena keimanan memupuk dan mengembangkan fungsi-fungsi jiwa dan memelihara keseimbangan serta menjamin ketentraman batin. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan memiliki iman yang kokoh, maka kita akan mampu menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kita dapat memilih sesuatu yang memang harus diprioritaskan terlebih dahulu, dibandingkan sesuatu yang memang bisa kita lakukan diesok hari. Dengan iman pula seseorang akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Meski banyak permasalahan yang dihadapi, ia tetap sabar dan husnudzan bahwa dibalik masalah atau musibah pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya. Dengan selalu bersikap husnudzan itulah mampu membuat seseorang memiliki hati tenang dan tentram.
Kemudian, pembinaan ketaatan beribadah pada anak harus dimulai dari lingkungan keluarga. Semua pengalaman beribadah yang berawal dari lingkungan keluarga merupakan unsur-unsur positif dalam pembentukan kepribadian anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Sebagaimana dalam Al-qur’an yang telah melukiskan cara Luqman Hakim menyuruh anaknya untuk shalat, seperti yang tercantum dalam surat Luqman ayat 17 berikut:
ูŠٰุจُู†َูŠَّ ุฃَู‚ِู…ِ ุงู„ุตَّู„ٰูˆุฉَ ูˆَุฃْู…ُุฑْ ุจِุงุงู„ู…َุนْุฑُูˆْูِ ูˆَุงู†ْู‡َ ุนَู†ِ ุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุงุตْุจِุฑْ ุนَู„ٰู‰ ู…َุง ุฃَุตَุงุจَูƒَ ۚ ุงِู†َّ ุฐٰู„ِูƒَ ู…ِู†ْ ุนَุฒْู…ِ ุงู„ْุนُู…ُูˆْุฑِ
Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting” (Q.S. Luqman: 17)
Adanya perintah shalat tersebut dilakukan dengan cara mengajak dan membimbing mereka untuk shalat atau melakukan ibadah lain. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai dewasa, bahkan sampai mereka tua. Anak-anak mulai mengenal agama melalui pengalamannya, melihat orangtua melaksanakan ibadah, mendengar buah tutur yang baik dari orangtuanya, sehingga semua itu dapat mereka terapkan dalam berbagai kesempatan.
Kemudian yang ketiga ialah pendidikan akhlak. Dalam ajaran Islam, pendidikan akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan keimanan. Iman merupakan pengakuan hati dan akhlak adalah pantulan iman dari perilaku, ucapan, dan sikap. Menurut Zakiyah Derajat (1994:60), pendidikan akhlak dalam Al-qur’an bertumpu pada aspek fitrah yang terdapat dalam diri manusia, aspek wahyu (agama), kemauan, dan tekad manusiawi.  Oleh karena itu, pendidikan akhlak perlu dilakukan dengan cara:
1.    Menumbuhkembangkan dorongan dari dalam diri anak yang bersumber pada iman dan takwa. Untuk ini perlu pendidikan agama.
2.    Meningkatkan pengetahuan anak tentang akhlak Al-qur’an melalui ilmu pengetahuan, pengalaman, dan latihan agar anak dapat membedakan yang baik dan buruk.
3.    Melakukan pembiasaan yang baik, sehingga perbuatan baik menjadi keharusan moral dan akhlak terpuji yang tumbuh dan berkembang secara wajar dalam diri anak. Oleh karena itu, pengaplikasian yang baik dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi orangtua dan para pendidik sangatlah penting. Orang tua maupun pendidik harus menyadari peran dan pengaruhnya terhadap anak.
Sedangkan membina keselarasan akidah, ibadah, dan akhlak yang bisa diterapkan dalam sekolah diantaranya ialah dengan tidak lebih menekankan ilmu umum dan mengesampingkan ilmu agama, ataupun mengajarkan materi yang bersifat kognitif saja, melainkan sebagai pendidik harus senantiasa memberikan nilai-nilai keagamaan disetiap pelajaran berlangsung. Nilai-nilai agama yang mengandung anjuran dan nasihat nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan sosial peserta didik. Bukan berarti melarang belajar ilmu-ilmu umum, akan tetapi ilmu-ilmu itu harus diseimbangkan. Orang islam tidak akan maju jika mereka meninggalkan agamanya. Berbeda dengan orang barat, mereka akan lebih maju setelah mereka meninggalkan agamanya.
Adanya bangsa Islam mundur salah satunya karena mereka lebih sedikit atau bahkan sudah tidak mempraktikkan ajaran Islam yang termuat dalam Al-qur’an dan Hadits. Umat Islam harus mampu menyeimbangkan pendidikan umum dan pendidikan agama. Selain itu umat Islam juga harus bisa menguasai media massa dan teknologi. Karena di era modern sekarang, media massa menjadi sasaran utama dalam penyebaran berita-berita negatif tentang Islam yang boleh dikatakan media massa sekarang telah dikuasai oleh non-muslim. Dampaknya, citra Islam menjadi buruk karena dirusak oleh orang-orang yang dangkal pemahaman ilmunya dan lebih mementingkan ego serta hawa nafsunya.
Simpulan  
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan harus dilakukan sejak dini, terutama pendidikan Islam yang didalamnya mencakup segala aspek kehidupan. Dari pendidikan Islam itulah yang nantinya mampu membekali anak didik dengan adanya tata aturan dan moral keagamaan yang harus dipatuhi dalam setiap tindakan mereka.
Islam merupakan sumber norma dan nilai-nilai yang mengatur jalannya kehidupan. Prinsip-prinsip ajaran Islam dapat diterapkan dimana saja, dan kapan saja. Dengan ini adanya usaha membumikan nilai-nilai ajaran Islam secara murni dan utuh memang sangat diperlukan. Adanya pendidikan Islam diharapkan mampu memperbaiki moral dan akhlak anak didik bersamaan dengan penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi, juga sekaligus rasa keagamaan dan keimanan yang kokoh. Pendidikan Islam  merupakan pendidikan pokok bagi bangsa Islam. Jika kita belajar ilmu umum tanpa dilandasi dengan nilai-nilai dalam pendidikan Islam, sama hal nya kita belajar ilmu tanpa iman.
Sedangkan kedudukan akhlak itu sendiri sangatlah urgen dalam kehidupan manusia, sehingga Allah mengutus Rosulullah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Akhlak ialah corak seseorang atau bisa dikatakan sebagai penentu bahwa seseorang itu baik atau buruk. Dari sinilah akhlak selalu dijadiakan penentu terdepan dalam setiap persoalan yang dihadapi oleh bangsa.
Penerpan pendidikan karakter di berbagai lembaga pendidikan harus di jabarkan secara komplit, tidak hanya teori saja. Dengan adanya kurikulum 2013 yang didalamnya mencakup 3 aspek pembelajaran, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik diharapkan mampu membantu proses pembentukan kepribadian yang baik bagi anak didik di sekolah.


 
Daftar Pustaka
Buku:
Asrohah, Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Daradjat, Zakiyah. 1994. Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah. Jakarta: Ruhama.
Hamid, Hamdani dan Beni Ahmad Saebani. 2013. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2013. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja Roesdakarya.
Mastuhu. 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Ramayulis. 1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Roesdakarya.
Zainal, Veithzal Rivai dan Fauzi Bahar. 2013. Islamic Education Management: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Jurnal:
Sahlan, Asmaun. 2013. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam (Kajian Penerapan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal al-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang. hlm.145
Herman. 2014. Prinsip-Prinsip Dalam Pendidikan Islam (Universal, Keseimbangan, dan Kesederhanaan). Jurnal Al-Ta’dib. 7 (2): 102-103.

Komentar

  1. MasyaAllah judulnya saja sudah mendalam sekali, isinya sangat bermanfaat dan bagus
    Hanya saja, setau saya judul jurnal itu tidak lebih dari 12 kata, ini judulnya ada 14 kata ya?. Tapi apabila saya salah tolong bisa diluruskan
    Over all suka sih sama kajian ini. Ditunggu ilmu-ilmu yg selanjutnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukran alhamdulillah terimakasih atas masukan nya, iya benar. Saya lupa akan ketentuan yang berlaku dalam pembuatan judul dalam jurnal ๐Ÿ˜… insya Allah akan saya perbaiki dilain waktu.

      Hapus
  2. Udh bags artikelnya. Semoga bermanfaat yaaa aamiin. Saran saya agar lebih menyingkatkan judul nya agar tdk terlalu panjang๐Ÿ˜†. Fighting sukma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa aamiin mbak dwi syukran sudah memberi masukan, saya terlalu terburu buru, alhasil lupa akan kriteria pembuatan judul ๐Ÿ˜…

      Hapus
  3. Sudah bagus tinggal penulisan dirapikan kembali kemudian judul lebib dirampingkan ya ana. Semangat!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak siap! Syukran atas masukannya mas najib, maklum manusia tempatnya salah dan lupa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜„

      Hapus
  4. Sistematika penulisannya sudah bagus. Dari melihat judulnya saja kelihatannya isinya menarik, akan tetapi lebih bagus lagi jika judul lebih dipersingkat lagi. Dan menurut saya pas di bagian kata kunci kayanya kebanyakan. Karena setahu saya kata kunci itu antara 3-5 kata. Menurut anda kata kunci yg baik itu yang seperti apa dan bagaimana? Tetimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak putri atas masukannya ๐Ÿ˜Š iya , ketika membuat jurnal itu saya tidak begitu mmperhatikan kaidah penulisan yang benar, saya lupa, alhasil terlalu kebanyakan. Menurut saya kata kunci yang baik ya yang sesuai dengan kriteria penulisan seharusnya, dan semua poin nya tercakup dan dijabarkan secara luas di bab pembahasan.

      Hapus
  5. Artikel yang bermanfaat ๐Ÿ‘ khususnya bagi calon pendidik masa depan untuk bisa menerapkan bagaimana pentingnya pendidikan Islam untuk menanamkan atau mengubah karakter, akhlak daa moral peserta didik di era modern ini. Menurut saya, artikel ini akan lebih baik dan menarik lagi jika dicondongkan pada urgensi pendidikan Islamnya, yakni diperbanyak, diperdalam, dan diperluas lagi. Terimakasih๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terimakasih atas masukannya mbak faiqo ๐Ÿ˜Š

      Hapus
  6. Sangat bermanfaat artikelnya bagi calon generasi bangsa, semoga banyak yang membacanya dan menerapkannya dalam kehidupan

    BalasHapus

Posting Komentar