Bismillahirrohmanirrohim
Urgensi Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Guna Revitalisasi
Karakter, Akhlak, Dan Moral Generasi
Penerus Bangsa
Sukma
Putri Anna
(2021116015)
IAIN
Pekalongan
Abstrak
Kemajuan suatu
bangsa dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Penataan pendidikan
itu diupayakan mampu menjadikan rakyat Indonesia yang berkarakter dan bermoral,
sehingga dapat meninggikan harkat dan martabat bangsa Indonesia. Penataan
pendidikan yang terpenting disini ialah dalam
penataan pendidikan agama Islam. Proses peningkatan pendidikan agama Islam,
dapat menaikan kualitas moral anak bangsa. Disamping adanya penanaman
nilai-nilai Islam dan kepatuhan setiap individu dalam menjalankan syari’at
Islam, bangsa ini juga harus bisa menjadi bangsa yang berilmu pengetahuan luas.
Pendidikan di Indonesia hendaknya mampu menyeimbangkan antara ilmu-ilmu dunia
dengan ilmu-ilmu akhirat, guna tercapainya kualitas bangsa yang ideal. Tidak
hanya pandai berkata-kata, melainkan juga pandai mengaplikasikannya dalam
kehidupan bermasyarakat. Dengan cara
membina keselarasan akidah, ibadah, dan akhlak.
Kata kunci: Pendidikan agama
Islam, kedudukan, sistem, akidah, akhlak, iman, bangsa, Indonesia
Pendahuluan
Sejalan
dengan problematika umat kontemporer di Indonesia, sebagai dampak dari
meningkatnya arus globalisasi diberbagai dimensi kehidupan. Selain itu juga
karena kurangnya pendidikan agama yang ditanamakan dalam diri seorang anak
sejak dini. Adanya fenomena semacam ini, sangat memerlukan pendidikan agama
khususnya pendidikan agama Islam. Kehadiran pendidikan agama Islam diharapkan
mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan-persoalan kehidupan.
Agama
sangatlah penting dalam kaitannya dengan kehidupan manusia baik di dunia maupun
di akhirat. Karena tanpa adanya agama manusia akan hidup terombang ambing tanpa
tujuan. Dengan berpedoman pada agama yang di anutnya, diharapakan manuisa dapat
mengerti dan memahami konsep diri dalam mengarungi kehidupan. Agama sangat
berguna untuk menopang diri, karena dengan agama manusia dapat memeperoleh arti
dalam menjalani hidup sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhannya.
Pada
dasarnya pendidikan mempunyai peran yang sangat penting untuk menjamin
perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Sebab, pendidikanlah yang
akan mencetak sumber daya manusia. Terutama pendidikan agama Islam, salah satu
peran agama Islam sendiri ialah untuk memebentuk akhlak dan budi pekerti mulia.
Pendidikan
agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di Indonesia.
Kedudukan pendidikan agama Islam sangat mempengaruhi sistem pendidikan
nasional. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki dasar yang
cukup kuat. Hal ini secara pintas dapat dilihat dalam tujuan pendidikan yang
diterapkan di Indonesia yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ini juga dilakukan
dalam pendidikan Islam. Dalam UU Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertkwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung
jawab.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita telah banyak menemukan bukti nyata dari rendahnya
akhlak generasi penerus bangsa. Perilaku negatif yang mudah kita jumpai
diantaranya: hamil diluar nikah, pembunuhan, narkoba, pemerkosaan, tawuran, dan
masih banyak lagi ulah dari kalangan remeja di zaman sekarang. Adanya perilaku
negatif tersebut menunjukkan belum optimalnya pendidikan agama Islam di
sekolah-sekolah. Ada 3 alasan penting perlunya mengoptimalkan pendidikan agama
Islam. Pertama, banyaknya jumlah generasi muda Islam yang ada di sekolah umum,
dibandingkan dengan generasi muda Islam yang ada di Madrasah atau pesantren.
Kedua,
mata pelajaran PAI yang dilaksanakan di sekolah umum sangat terbatas. Dengan
keterbatasan tersebut tidak mungkin dapat menyelesaikan materi pembelajaran
pendidikan agama Islam secara utuh dan menyeluruh. Mata pelajaran pendidikan agama
Islam yang disampaikan lebih menekankan materi yang bersifat dogmatis. Bahkan
tidak jarang guru-guru PAI yang lebih menekankan materi dalam ranah kognitif.
Penanaman nilai-nilai Islam akan sulit disampaikan oleh guru-guru PAI dengan
keterbatasan waktu yang disediakan.
Ketiga,
jika pendidikan agama Islam kurang ditekankan di sekolah-sekolah, maka
dikhawatirkan terjadi dikotomi antara ilmu dan agama. Kedepannya mereka akan
lebih pandai dan menguasai bidang ilmu-ilmu umum seperti sains, tanpa dilandasi
dengan keimanan yang kuat. Kaya pengetahuan namun miskin keimanan akan lebih
banyak mengakibatkan kemudhorotan daripada kemaslahatan. Dan untuk
menyelesaikan masalah-masalah diatas, perlu adanya optimalisasi pendidikan
agama Islam di sekolah-sekolah. Setidaknya, agar pendidikan di sekolah mampu
menyeimbangkan antara ilmu-ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Pembahasan
Urgensi
Pendidikan Islam
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan
Islam ini diutuslah seorang Rosul Allah. Tujuan utamanya untuk memperbaiki
manusia kembali kepada Allah swt. Oleh karena itu, selama kurang lebih 23 tahun
Rosulullah saw membina dan mempernbaiki manusia melalui pendidikan.
Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu
orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu
melanjutkan warisan berharga berupa ketakwaan kepada Allah swt.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah dimuka bumi untuk
mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas
kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan
seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman, akal akan berjalan sendirian sehingga akan
muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula
sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak
mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan
isinya (Zainal dan Bahar, 2015:66-67)
Kedudukan Pendidikan dalam Islam
Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan. Oleh
karena itu, dengan segala potensi yang dimilikinya, ia berusaha maju dan
berkembang untuk mencapai kesempurnaannya. Baik secara jasmani maupun rohani. Setiap
saat manusia selalu membutuhkan belajar dari lingkungan. Untuk membuat manusia
paham akan sesuatu tentunya membutuhkan peran pendidikan. Menurut Hanun Asrohah
(1999:2) Pendidikan adalah suatu yang esensial bagi manusia. Melalui
pendidikan, manusia bisa belajar menghadapi alam semeseta demi mempertahankan
hidupnya. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada
kedudukan yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam.
Sistem Pendidikan Islam
Sistem pendidikan Islam berorientais pada persoalan dunia dan
ukhrawi sekaligus. Meski dalam praktiknya cukup banyak lembaga-lembaga
pendidikan Islam yang cenderung mementingkan dimensi keakhiratan semata
daripada keduniawian. Ini terjadi karena kehidupan ukhrawi dipandang sebagai
kehidupan yang sesungguhnya dan terakhir. Sedangkan kehidupan dunia bersifat
sementara, bukan kehidupan terakhir (Mastuhu, 1999:24-25). Prinsip universal
dalam pendidikan Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang
berhubungan dnegan masalah akidah, ibadah, maupun akhlak. Diantaranya meliputi:
masalah ketuhanan, sosial mayarakat, kesadaran, dan lingkungan (Herman,
2014:102-103)
Kiat sistem pendidikan Islam dalam memperlakukan anak didik dapat
ditempuh dengan tiga tahap. Pertama, anak didik diperlakukan sebagai anak, orangtua sepenuhnya bertanggung jawab untuk
meletakkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan yang kokoh sampai anak mencapai
baligh. Kedua, anak didik diperlakukan sebagai teman, masing-masing orang memandang
anak didik memiliki hak privasinya untuk menentukan gaya kepribadian sendiri. Disini
anak didik tidak 100 % bergantung kepada orangtua. Ketiga, anak didik dipandang
sebagai pengganti orang tua/generasi tua. Pada titik ini, anak 100% tergantung
kepada dirinya sendiri dan telah mampu bekerja sama dengan orang lain dalm
sistem kehidupan bersama (Mastuhu, 1999:28)
Pendidikan
Karakter dalam Islam
Dapat kita ketahui bahwa tujuan utama Rosulullah menyampaikan
risalah ialah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana
menurut Ramayulis (1994:4) dalam bukunya, mengutip pendapat M. Athiyah
Al-Abrasyi dan Ahmad D. Marimba mengemukakan pengertian pendidikan Islam,
adalah “suatu proses edukatif yang mengarah kepada pembentukkan akhlak atau
kepribadian”. Dari pendapat yang dikemukakannya tersebut, telah jelas bahwa
pendidikan Islam sangat memperhatikan aspek pembentukkan akhlak atau kepribadian
sesuai pendidikan Islam.
Menurut Ahmad Tafsir (1994:32) mengatakan bahwa pendidikan Islam
ialah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia
berkembang secara maksimal mungkin. Dari definisi tersebut nampak ditekankan
kepada usaha bimbingan bagi perkembangan menjadi muslim yang maksimal. Dari
pengertian ini juga mengandung makna adanya bimbingan dari seseorang
(pendidik), kepada seseorang (peserta didik), agar ia berkembang secara
maksimal sesuai dengan ajaran Islam (sebagai tujuan dan dasar pendidikannya).
Dari uraian diatas fokus penekanannya terdapat pada akhlak
(kepribadian), disamping itu juga dalam rangka mengembangkan fitrah dan potensi
manusia agar bisa berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam yang
didalamnya mengandung nilai-nilai Islam. Sehingga diharapkan peserta didik
mampu menjadi masyarakat muslim yang baik, berguna bagi agama, nusa, dan
bangsa.
Moral dan nilai-nilai keagamaan memiliki peran penting dalam rangka
membangun kesejahteraan dalam kehidupan sosial manapun. Didalamnya mengandung
sesuatu yang bertujuan untuk mengarahkan dan membimbing setiap individu agar
berlaku sesuai dengan yang diperintahkan oleh sang pencipta. Tanpa keduanya,
maka elemen vital yang mengikat kehidupan masyarakat dapat dipastikan tidak
berjalan dengan baik, bahkan bisa hilang.
Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika
Islam. Pentingnya penggabungan antara akal dan wahyu dalam menentukan
nilai-nilai moral, terbuka untuk diperdebatkan. Bagi kebanyakan muslim segala
sesuatu yang dianggap halal dan haram dalam Islam, dipahami sebagai keputusan
Allah tentang benar dan baik. Tidak bisa diubah, dengan jalan menghalalkan yang
haram, ataupun mengharamkan yang halal.
Dalam Islam terdapat tiga nilai utama, yakni akhlak, adab, dan
keteladanan. Akhlak merujuk kepada tugas dan tanggungjawab selain syari’at dan
ajaran Islam secara umum. Sedangkan term adab merujuk kepada sikap yang
dihubungkan dengan tingkah laku yang baik. Dan keteladanan merujuk kepada
kualitas karakter yang ditampilkan oleh seorang muslim yang baik yang mengikuti
keteladanan Nabi Muhammad saw. Ketiga nilai inilah yang menjadi pilar pendidikan
karakter dalam Islam (Majid dan Andayani, 2013:58).
Akhlak dan karakter sangatlah penting karena akhlak adalah
kepribadian yang mempunyai tiga komponen, yaitu pengetahuan, sikap, dan
perilaku. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa seseorang layak atau tidak layak
disebut sebagai manusia. Karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang
sangat mendasar pada diri seseorang. Hal-hal yang sangat abstrak dalam diri
seseorang sering orang menyebutnya dengan tabiat atau perangai.
Pandangan Islam tentang pendidikan karakter, bahwa pendidikan Islam
memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di Barat.
Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama
yang abadi, aturan, dan hukum yang dalam memperkuat moralitas, perbedaan
pemahaman tentang kebenaran, penolakan tentang otonomi moral sebagai tujuan
pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku
bermoral. Sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya surat Al-Baqarah,
yang artinya: “jika kamu lahirkan suatu kebaikan dan menyembunyikan atau
memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah maha pemaaf
lagi maha kuasa”. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak dalam
Islam itu sangat mulia dan agung bagi orang-orang yang mampu melakukannya
(Sahlan:145).
Membina Keselarasan Akidah, Ibadah, dan Akhlak
Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa kunci pendidikan terletak
pada pendidikan agama. Kunci pendidikan agama adalah mendidik anak, mematuhi Allah,
menghormati orang tua dan guru. Menurut Ahmad Tafsir (1994:189) kegagalan
pendidikan bisa disebabkan karena kurangnya rasa hormat anak kepada pendidik,
baik orang tua maupun pendidik lain. Bisa jadi karena kurang berwibawanya guru.
Kurang berwibawanya guru dapat disebabkan berbagai hal, dan yang paling
utamanya ialah kepribadian guru. Kepribadian yang kuat ialah keimanan. Jadi,
kunci dari semua itu adalah iman.
Selain itu, bisa juga karena kurangnya perhatian guru dalam menanamkan
nilai-nilai agama pada diri peserta didik. Guru hanya mentransfer ilmu-ilmu
pengetahuan yang sifatnya kognitif saja. Dan alokasi waktu yang diberikan dalam
pembelajaran pun sangat minim. Sedangkan untuk kehidupan sosial dan masyarakat,
peserta didik sangat membutuhkan ajaran yang bermuat moral-moral sebagai ajang
untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan perintah Tuhan.
Menurut Zakiyah Darajat (1994:8), keimanan yang diajarkan oleh
orang tua kepada anak itu sangat penting. Hal ini karena keimanan memupuk dan
mengembangkan fungsi-fungsi jiwa dan memelihara keseimbangan serta menjamin
ketentraman batin. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan
memiliki iman yang kokoh, maka kita akan mampu menyeimbangkan antara kehidupan
dunia dan akhirat. Kita dapat memilih sesuatu yang memang harus diprioritaskan
terlebih dahulu, dibandingkan sesuatu yang memang bisa kita lakukan diesok
hari. Dengan iman pula seseorang akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Meski
banyak permasalahan yang dihadapi, ia tetap sabar dan husnudzan bahwa dibalik
masalah atau musibah pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya. Dengan selalu
bersikap husnudzan itulah mampu membuat seseorang memiliki hati tenang dan
tentram.
Kemudian, pembinaan ketaatan beribadah pada anak harus dimulai dari
lingkungan keluarga. Semua pengalaman beribadah yang berawal dari lingkungan
keluarga merupakan unsur-unsur positif dalam pembentukan kepribadian anak yang
sedang tumbuh dan berkembang. Sebagaimana dalam Al-qur’an yang telah melukiskan
cara Luqman Hakim menyuruh anaknya untuk shalat, seperti yang tercantum dalam
surat Luqman ayat 17 berikut:
ٰูุจََُّูู ุฃَِูู
ِ
ุงูุตَّٰููุฉَ َูุฃْู
ُุฑْ ุจِุงุงูู
َุนْุฑُِْูู َูุงَْูู ุนَِู ุงْูู
َُْููุฑِ َูุงุตْุจِุฑْ ุนَٰูู
ู
َุง ุฃَุตَุงุจََู ۚ ุงَِّู ุฐَِٰูู ู
ِْู ุนَุฒْู
ِ ุงْูุนُู
ُْูุฑِ
Artinya: “Wahai
anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan
cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu,
sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting” (Q.S. Luqman:
17)
Adanya
perintah shalat tersebut dilakukan dengan cara mengajak dan membimbing mereka
untuk shalat atau melakukan ibadah lain. Sehingga kebiasaan tersebut terbawa sampai
dewasa, bahkan sampai mereka tua. Anak-anak mulai mengenal agama melalui
pengalamannya, melihat orangtua melaksanakan ibadah, mendengar buah tutur yang
baik dari orangtuanya, sehingga semua itu dapat mereka terapkan dalam berbagai
kesempatan.
Kemudian
yang ketiga ialah pendidikan akhlak. Dalam ajaran Islam, pendidikan akhlak
tidak dapat terlepas dari pendidikan keimanan. Iman merupakan pengakuan hati
dan akhlak adalah pantulan iman dari perilaku, ucapan, dan sikap. Menurut
Zakiyah Derajat (1994:60), pendidikan akhlak dalam Al-qur’an bertumpu pada
aspek fitrah yang terdapat dalam diri manusia, aspek wahyu (agama), kemauan,
dan tekad manusiawi. Oleh karena itu,
pendidikan akhlak perlu dilakukan dengan cara:
1.
Menumbuhkembangkan
dorongan dari dalam diri anak yang bersumber pada iman dan takwa. Untuk ini
perlu pendidikan agama.
2.
Meningkatkan
pengetahuan anak tentang akhlak Al-qur’an melalui ilmu pengetahuan, pengalaman,
dan latihan agar anak dapat membedakan yang baik dan buruk.
3.
Melakukan
pembiasaan yang baik, sehingga perbuatan baik menjadi keharusan moral dan
akhlak terpuji yang tumbuh dan berkembang secara wajar dalam diri anak. Oleh
karena itu, pengaplikasian yang baik dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi
orangtua dan para pendidik sangatlah penting. Orang tua maupun pendidik harus
menyadari peran dan pengaruhnya terhadap anak.
Sedangkan
membina keselarasan akidah, ibadah, dan akhlak yang bisa diterapkan dalam
sekolah diantaranya ialah dengan tidak lebih menekankan ilmu umum dan
mengesampingkan ilmu agama, ataupun mengajarkan materi yang bersifat kognitif
saja, melainkan sebagai pendidik harus senantiasa memberikan nilai-nilai
keagamaan disetiap pelajaran berlangsung. Nilai-nilai agama yang mengandung
anjuran dan nasihat nantinya bisa diterapkan dalam kehidupan sosial peserta
didik. Bukan berarti melarang belajar ilmu-ilmu umum, akan tetapi ilmu-ilmu itu
harus diseimbangkan. Orang islam tidak akan maju jika mereka meninggalkan
agamanya. Berbeda dengan orang barat, mereka akan lebih maju setelah mereka
meninggalkan agamanya.
Adanya
bangsa Islam mundur salah satunya karena mereka lebih sedikit atau bahkan sudah
tidak mempraktikkan ajaran Islam yang termuat dalam Al-qur’an dan Hadits. Umat Islam
harus mampu menyeimbangkan pendidikan umum dan pendidikan agama. Selain itu
umat Islam juga harus bisa menguasai media massa dan teknologi. Karena di era
modern sekarang, media massa menjadi sasaran utama dalam penyebaran
berita-berita negatif tentang Islam yang boleh dikatakan media massa sekarang telah
dikuasai oleh non-muslim. Dampaknya, citra Islam menjadi buruk karena dirusak
oleh orang-orang yang dangkal pemahaman ilmunya dan lebih mementingkan ego
serta hawa nafsunya.
Simpulan
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembangunan dan kemajuan
suatu bangsa. Pendidikan harus dilakukan sejak dini, terutama pendidikan Islam
yang didalamnya mencakup segala aspek kehidupan. Dari pendidikan Islam itulah
yang nantinya mampu membekali anak didik dengan adanya tata aturan dan moral
keagamaan yang harus dipatuhi dalam setiap tindakan mereka.
Islam merupakan sumber norma dan nilai-nilai yang mengatur jalannya
kehidupan. Prinsip-prinsip ajaran Islam dapat diterapkan dimana saja, dan kapan
saja. Dengan ini adanya usaha membumikan nilai-nilai ajaran Islam secara murni
dan utuh memang sangat diperlukan. Adanya pendidikan Islam diharapkan mampu
memperbaiki moral dan akhlak anak didik bersamaan dengan penguasaan ilmu-ilmu
pengetahuan dan teknologi, juga sekaligus rasa keagamaan dan keimanan yang
kokoh. Pendidikan Islam merupakan pendidikan
pokok bagi bangsa Islam. Jika kita belajar ilmu umum tanpa dilandasi dengan
nilai-nilai dalam pendidikan Islam, sama hal nya kita belajar ilmu tanpa iman.
Sedangkan kedudukan akhlak itu sendiri sangatlah urgen dalam
kehidupan manusia, sehingga Allah mengutus Rosulullah untuk menyempurnakan
akhlak umat manusia. Akhlak ialah corak seseorang atau bisa dikatakan sebagai
penentu bahwa seseorang itu baik atau buruk. Dari sinilah akhlak selalu
dijadiakan penentu terdepan dalam setiap persoalan yang dihadapi oleh bangsa.
Penerpan pendidikan karakter di berbagai lembaga pendidikan harus
di jabarkan secara komplit, tidak hanya teori saja. Dengan adanya kurikulum
2013 yang didalamnya mencakup 3 aspek pembelajaran, yakni kognitif, afektif,
dan psikomotorik diharapkan mampu membantu proses pembentukan kepribadian yang
baik bagi anak didik di sekolah.
Daftar Pustaka
Buku:
Asrohah,
Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Daradjat,
Zakiyah. 1994. Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah. Jakarta:
Ruhama.
Hamid,
Hamdani dan Beni Ahmad Saebani. 2013. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung:
CV. Pustaka Setia.
Majid,
Abdul dan Dian Andayani. 2013. Pendidikan Karakter Perspektif Islam.
Bandung: PT. Remaja Roesdakarya.
Mastuhu.
1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana
Ilmu.
Ramayulis.
1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Tafsir,
Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
Roesdakarya.
Zainal,
Veithzal Rivai dan Fauzi Bahar. 2013. Islamic Education Management: Dari
Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Jurnal:
Sahlan, Asmaun. 2013. Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam
(Kajian Penerapan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal
al-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang. hlm.145
MasyaAllah judulnya saja sudah mendalam sekali, isinya sangat bermanfaat dan bagus
BalasHapusHanya saja, setau saya judul jurnal itu tidak lebih dari 12 kata, ini judulnya ada 14 kata ya?. Tapi apabila saya salah tolong bisa diluruskan
Over all suka sih sama kajian ini. Ditunggu ilmu-ilmu yg selanjutnya ya
Syukran alhamdulillah terimakasih atas masukan nya, iya benar. Saya lupa akan ketentuan yang berlaku dalam pembuatan judul dalam jurnal ๐ insya Allah akan saya perbaiki dilain waktu.
HapusUdh bags artikelnya. Semoga bermanfaat yaaa aamiin. Saran saya agar lebih menyingkatkan judul nya agar tdk terlalu panjang๐. Fighting sukma
BalasHapusIyaa aamiin mbak dwi syukran sudah memberi masukan, saya terlalu terburu buru, alhasil lupa akan kriteria pembuatan judul ๐
HapusSudah bagus tinggal penulisan dirapikan kembali kemudian judul lebib dirampingkan ya ana. Semangat!!!
BalasHapusYak siap! Syukran atas masukannya mas najib, maklum manusia tempatnya salah dan lupa ๐๐
HapusSistematika penulisannya sudah bagus. Dari melihat judulnya saja kelihatannya isinya menarik, akan tetapi lebih bagus lagi jika judul lebih dipersingkat lagi. Dan menurut saya pas di bagian kata kunci kayanya kebanyakan. Karena setahu saya kata kunci itu antara 3-5 kata. Menurut anda kata kunci yg baik itu yang seperti apa dan bagaimana? Tetimakasih.
BalasHapusTerimakasih mbak putri atas masukannya ๐ iya , ketika membuat jurnal itu saya tidak begitu mmperhatikan kaidah penulisan yang benar, saya lupa, alhasil terlalu kebanyakan. Menurut saya kata kunci yang baik ya yang sesuai dengan kriteria penulisan seharusnya, dan semua poin nya tercakup dan dijabarkan secara luas di bab pembahasan.
HapusArtikel yang bermanfaat ๐ khususnya bagi calon pendidik masa depan untuk bisa menerapkan bagaimana pentingnya pendidikan Islam untuk menanamkan atau mengubah karakter, akhlak daa moral peserta didik di era modern ini. Menurut saya, artikel ini akan lebih baik dan menarik lagi jika dicondongkan pada urgensi pendidikan Islamnya, yakni diperbanyak, diperdalam, dan diperluas lagi. Terimakasih๐
BalasHapusIya, terimakasih atas masukannya mbak faiqo ๐
HapusSangat bermanfaat artikelnya bagi calon generasi bangsa, semoga banyak yang membacanya dan menerapkannya dalam kehidupan
BalasHapus